"Kami melihat biaya pengembangan seringkali mencapai ratusan juta dolar, namun hanya menghasilkan pendapatan puluhan juta. Biaya terus bertambah, dan bagi banyak orang, rasanya seperti gelombang tsunami sedang menyapu bisnis game AAA," ujar Sweeney di hadapan para pengembang, Kamis pekan lalu.
Sweeney mengamati bahwa pemain kini lebih memilih pengalaman sosial daring. Mereka enggan pindah ke platform baru karena teman-teman mereka sudah berkumpul di satu tempat. Akibatnya, game-game besar yang dirilis sebagai produk mandiri kian sulit bersaing.
Di sisi lain, Roblox terus melesat dengan 450 juta pengguna aktif. Sweeney menyebut platform itu sebagai "tantangan nyata" karena bersifat sentralistik, mengambil lebih dari 70% pendapatan pengembang, dan mengkomoditisasi semua konten di bawah satu pintu gerbang tunggal.
Alih-alih melawan Roblox secara frontal, Epic menawarkan jalan ketiga. Sweeney mengajak pengembang untuk bergabung dalam ekosistem Unreal Engine yang saling terhubung—menautkan konten, komunitas, dan ekonomi antar game.
"Kita harus membangun game yang lebih baik, lebih efisien, dan dirancang sejak awal sebagai game yang terhubung. Pemain tidak lagi melihat game sebagai produk terisolasi, melainkan bagian dari ekosistem global," tegasnya.
Untuk mewujudkan visi itu, Epic tidak lagi hanya menjual grafis ciamik. Unreal Engine 6 yang akan datang difokuskan pada efisiensi—dengan integrasi generative AI—dan interoperabilitas. Pengembang bisa merilis game sebagai file eksekusi mandiri, sekaligus sebagai konten di dalam Fortnite atau game Unreal Engine lainnya.
Skema bagi hasil yang ditawarkan Epic jauh lebih ramah dibanding Roblox. Unreal Engine gratis dipakai, dengan royalti 5% hanya jika pendapatan game sudah menembus US$1 juta. Epic Games Store juga hanya mengambil potongan 12% setelah US$1 juta pertama, dan pengembang bebas menggunakan sistem pembayaran sendiri untuk transaksi dalam game.
Namun, visi Sweeney menyisakan pertanyaan: apakah game naratif seperti The Witcher 4 atau Alan Wake 2—yang juga didanai Epic—masih punya tempat? Akankah model "bikin RPG besar lalu jual" tergerus dan berubah menjadi ruang nongkrong yang dioptimalkan untuk kolaborasi merek dan penjualan kosmetik?
Epic sendiri tampaknya tidak berpikir semua game harus berubah. Perusahaan tetap mendanai proyek-proyek ambisius seperti Alan Wake 2 dan game terbaru Fumito Ueda. Namun, dari pidato Sweeney, jelas bahwa masa depan pendapatan Epic tidak lagi bertumpu pada game-game semacam itu, melainkan pada ekosistem sosial yang terhubung—sebuah taruhan besar yang bisa mengubah peta industri game global.