SAMARINDA — DPRD Kota Samarinda memanggil sembilan anggota dewan dari dapil I untuk membahas penanganan banjir di kawasan Selili yang kian parah. Langkah ini merupakan respons atas banjir yang merendam wilayah tersebut pada 15-18 Juni lalu, yang dinilai tak bisa lagi dianggap sebagai masalah musiman biasa.
Banjir di Selili, Samarinda Ilir, pada pertengahan Juni lalu menjadi catatan serius bagi pemerintah kota. Genangan yang berlangsung selama empat hari itu melumpuhkan aktivitas warga dan merendam pemukiman di beberapa titik.
Anggota DPRD Samarinda menilai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa sistem drainase dan mitigasi banjir di kawasan tersebut belum optimal. Kondisi ini mendorong dewan untuk segera mengambil langkah konkret.
DPRD Samarinda mengajak sembilan anggota dewan yang mewakili dapil I untuk bergotong royong mencari solusi. Dapil I meliputi Kecamatan Samarinda Ilir, tempat Selili berada, sehingga para wakil rakyat ini dinilai paling memahami persoalan di lapangan.
"Banjir Selili sudah menjadi persoalan klasik yang butuh penanganan serius. Kami ingin semua pihak, terutama wakil rakyat dari dapil ini, turun langsung mencari akar masalah," ujar seorang pimpinan DPRD Samarinda dalam rapat internal, Senin lalu.
DPRD Samarinda menekankan bahwa pendekatan gotong royong ini bukan sekadar seremonial. Para anggota dewan dari dapil I diminta menyusun peta masalah dan rekomendasi teknis yang bisa dibawa ke pemkot.
Langkah ini diharapkan menghasilkan solusi jangka panjang, bukan hanya penanganan darurat saat banjir datang. Beberapa opsi yang akan dibahas antara lain normalisasi sungai, perbaikan drainase, dan relokasi warga yang tinggal di bantaran.