KALIMANTAN TIMUR — Program perdana Nayan Project berlangsung di Bandung pada pekan lalu, menyasar anak-anak usia sekolah dan remaja. Inisiatif ini lahir dari keprihatinan Celine Winarta terhadap minimnya kesadaran masyarakat tentang buta warna, terutama di daerah yang jauh dari akses layanan kesehatan mata. “Banyak orang tidak tahu kalau mereka buta warna sampai mengalami kesulitan di sekolah atau pekerjaan,” kata Celine dalam keterangan yang diterima redaksi.
Kegiatan di Bandung meliputi tes Ishihara—metode standar untuk mendeteksi buta warna—yang dilakukan secara gratis. Peserta juga mendapatkan konseling mengenai implikasi kondisi tersebut terhadap pilihan karier, seperti di bidang desain grafis, penerbangan, atau kelistrikan. Celine menambahkan bahwa deteksi dini memungkinkan anak-anak dan orang tua mengambil langkah antisipatif sejak awal.
Nayan Project menargetkan untuk mengadakan sesi serupa di lima kota lain sepanjang tahun ini. Setiap sesi dirancang untuk menjangkau minimal 200 peserta, dengan prioritas pada sekolah-sekolah yang tidak memiliki program kesehatan mata rutin. “Kami tidak hanya ingin menemukan, tapi juga mendampingi,” ujar Celine, yang masih duduk di bangku universitas.
Buta warna parsial, yang memengaruhi sekitar 8 persen pria dan 0,5 persen wanita di dunia, sering kali tidak terdeteksi hingga seseorang memasuki dunia kerja. Di Indonesia, data resmi mengenai prevalensi buta warna masih terbatas, namun diperkirakan jutaan orang hidup dengan kondisi tanpa