TENGGARONG — RSUD AMI Muara Badak selama ini hanya mampu melayani pasien di unit gawat darurat (IGD) karena keterbatasan tenaga dokter spesialis. Kondisi itu membuat warga di kawasan pesisir Kukar harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar jika mengalami penyakit serius.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Muffidah, mengungkapkan bahwa Pemprov Kaltim berencana memberikan penugasan khusus kepada dua dokter spesialis untuk ditempatkan di RSUD AMI. "Paling tidak kita membutuhkan 4 dokter spesialis, di antaranya penyakit dalam, anak, bedah dan kandungan," kata Ismi kepada KutaiRaya.com, Jumat.
Dari empat jenis spesialis yang dibutuhkan, Pemprov baru mengalokasikan dua bidang: penyakit dalam dan anak. Ismi mengatakan pihaknya masih menunggu surat penugasan resmi dari provinsi. "Hingga saat ini kami belum menerima surat penugasan khusus dokter spesialis yang akan ditempatkan di AMI," ucapnya.
Keterbatasan ini menjadi tantangan serius. Tanpa dokter spesialis bedah dan kandungan, pasien dengan kasus operasi atau persalinan berisiko tetap harus dirujuk ke RSUD AMI Parikesit di Tenggarong atau rumah sakit di Samarinda.
Sekretaris Dinkes Kukar, Kusnandar, menjelaskan bahwa pemenuhan dokter spesialis sebenarnya bisa dilakukan melalui perekrutan mandiri oleh Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Namun langkah itu belum bisa direalisasikan. "Dokter spesialis ini hanya bisa direkrut, bukan diusulkan ke pemerintah. Tapi perekrutan belum bisa dilakukan karena keterbatasan anggaran, baik pada BLUD atau pemerintah daerah," ujar Kusnandar.
Kondisi ini menunjukkan dilema klasik di daerah-daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN): kebutuhan layanan kesehatan meningkat drastis, tapi kemampuan fiskal daerah belum sepenuhnya siap. Muara Badak sendiri merupakan kecamatan yang berbatasan langsung dengan wilayah pengembangan IKN di Penajam Paser Utara.
Selama ini, warga Muara Badak dan sekitarnya hanya mengandalkan layanan IGD RSUD AMI untuk kondisi darurat. Untuk pemeriksaan spesialis—seperti penyakit dalam pada pasien hipertensi atau diabetes, hingga penanganan anak dengan komplikasi—mereka harus menempuh perjalanan puluhan kilometer ke Tenggarong atau Samarinda.
Kehadiran dua dokter spesialis, meski belum lengkap, setidaknya akan mengurangi beban rujukan. Pasien dengan penyakit dalam dan anak bisa ditangani lebih dekat dari rumah. Namun tantangan tetap ada: jadwal praktik dokter spesialis yang ditugaskan masih menunggu kepastian dari Pemprov Kaltim.
Dinkes Kukar berharap tambahan dokter spesialis bedah dan kandungan bisa menyusul dalam waktu dekat, baik melalui penugasan provinsi maupun rekrutmen BLUD jika anggaran sudah tersedia. Sampai saat itu tiba, warga Muara Badak masih harus bersabar dengan layanan yang terbatas.