Kelompok Tani Hutan di 5 Kabupaten Kaltim Raup Rp8,1 Miliar dari Gaharu hingga Wisata Alam

Penulis: Zaki Mubarak  •  Senin, 29 Juni 2026 | 17:43:32 WIB
Kelompok Tani Hutan di Kaltim raih pendapatan Rp8,1 miliar dari usaha berbasis kelestarian lingkungan.

SAMARINDA — Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM (P2SDM) Wilayah V mencatat nilai transaksi ekonomi dari usaha berbasis kelestarian lingkungan di Kalimantan Timur mencapai Rp8,1 miliar pada periode Januari hingga Mei 2026. Angka tersebut merupakan akumulasi dari berbagai kegiatan usaha kelompok tani hutan yang tersebar di Kabupaten Berau, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Kota Balikpapan.

Kabupaten Berau Sumbang Rp7,87 Miliar dari Gaharu

Kontribusi terbesar datang dari Kabupaten Berau dengan perputaran ekonomi lebih dari Rp7,87 miliar. Kepala P2SDM Wilayah V, Elpa Rifadi, menyebut keberhasilan ini tidak lepas dari pengelolaan komoditas gubal gaharu oleh Kelompok Tani Hutan Sei Baruk Lestari.

"Keberhasilan KTH Sei Baruk Lestari dalam menghasilkan miliaran rupiah dari komoditas gubal gaharu membuktikan bahwa pengelolaan hasil hutan bukan kayu tertentu masih menjadi penggerak utama ekonomi kehutanan kita," ujar Elpa di Samarinda, Senin.

Inovasi Produk: Madu Kelulut hingga Agroforestri Kopi

Selain mengandalkan getah dan kulit kayu mentah, sejumlah kelompok tani hutan mulai mengembangkan produk olahan bernilai tambah tinggi. Beberapa di antaranya adalah budidaya madu kelulut, pengembangan produk biomassa, dan sistem pertanian agroforestri kopi.

Di wilayah perkotaan, sejumlah kelompok tani hutan bahkan mengubah kawasan konservasi menjadi destinasi jasa wisata alam yang menguntungkan. Langkah ini dinilai berhasil mengubah paradigma bahwa hutan konservasi juga bisa menjadi sumber pendapatan finansial.

Diversifikasi Usaha Jadi Kunci agar Tak Bergantung Satu Komoditas

Elpa menambahkan, pihaknya akan terus mendorong peningkatan kapasitas usaha dan perluasan kemitraan bisnis. Hal ini penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang lebih inklusif, mengingat masih ada potensi besar yang belum tergarap optimal.

"Sebagai langkah antisipasi ke depannya, strategi diversifikasi usaha tetap dijadikan landasan penting agar masyarakat pedalaman terhindar dari ketergantungan fatal terhadap satu jenis produk komoditas unggulan," jelas dia.

Peran aktif tenaga penyuluh turut mendukung capaian ini. Mereka mendampingi petani dalam mengakses jejaring pemasaran dan menata sistem pencatatan administrasi. Peningkatan aktivitas komersial ini disebut-sebut turut menumbuhkan rasa percaya diri anggota kelompok untuk memperkuat partisipasi kolektif dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam hayati.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: kaltim.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top