SANGATTA — Musim kemarau tahun ini membuat kapasitas produksi mata air Gunung Sekerat di Kecamatan Kaliorang ambles drastis. Dari normal 50 liter per detik saat musim hujan, kini hanya tersisa 15 liter per detik. Akibatnya, distribusi air bersih ke Desa Benua Baru Ilir dan Desa Maloy di Kecamatan Sangkulirang macet total.
Dirut Perumdam Tirta Tuah Benua Kabupaten Kutim, Suparjan, menyebut penurunan volume air itu langsung mengganggu sistem penyediaan air baku. "Debit mata air dari Gunung Sekerat, Kecamatan Kaliorang menurun akibat kemarau, sehingga distribusi air bersih menuju Desa Benua Baru Ilir dan Desa Maloy terkendala," ujarnya di Sangatta, Selasa.
Kerja sama dengan PT MBS menjadi jalan keluar utama. Perusahaan daerah milik Pemprov Kaltim itu akan mengalirkan air curah dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) di kawasan KEK Maloy. Namun, pasokan itu belum bisa langsung mengalir.
Suparjan menjelaskan, setelah penandatanganan nota kesepahaman, PT MBS langsung mengajukan penambahan daya listrik ke PLN. "Penambahan kapasitas listrik oleh MBS menjadi salah satu prasyarat agar suplai air curah kepada Perumdam Tirta Tuah Benua dapat direalisasikan sesuai rencana," kata dia.
Sembari menunggu proses teknis dari PT MBS, Perumdam tidak tinggal diam. Sejumlah pembenahan pada jaringan penunjang distribusi telah rampung. Salah satunya, perbaikan reservoir booster berkapasitas 1.400 meter kubik di Desa Bumi Sejahtera, Kecamatan Kaliorang.
"Pembenahan fasilitas ini penting karena berfungsi untuk meningkatkan keandalan sistem distribusi. Harapannya adalah agar pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih stabil ketika pasokan air normal kembali," ujar Suparjan.
Dengan langkah ini, Perumdam menargetkan distribusi air bersih ke dua desa terdampak bisa kembali normal dalam waktu dekat. Warga di Kecamatan Sangkulirang kini hanya bisa berharap proses penambahan daya listrik di KEK Maloy rampung sebelum kemarau mencapai puncaknya.