KALIMANTAN TIMUR — Kesepakatan awal tersebut ditandatangani dalam rangkaian Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok pada Kamis (3/9). Bagi Pupuk Indonesia, proyek ini bukan sekadar perluasan bisnis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang memperkuat ketahanan rantai pasok pupuk nasional di tengah fluktuasi harga gas dunia.
“Penjajakan kerja sama kajian ini merupakan salah satu opsi strategi jangka panjang Pupuk Indonesia untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global,” ujar Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi dalam keterangan resmi, Senin (7/9).
NFP merupakan kompleks industri terintegrasi yang dirancang menghasilkan 1,8 juta ton metanol, 2 juta ton amonia, dan 3,5 juta ton urea per tahun. Fase kedua proyek yang tengah dikaji ini akan memanfaatkan gas alam sebagai bahan baku utama, sebuah keunggulan yang membuat struktur biaya produksi menjadi lebih kompetitif.
Pengalaman Pupuk Indonesia dalam mengolah gas menjadi amonia dan urea dinilai relevan dengan karakteristik pabrik tersebut. Kapasitas produksi yang besar ini kelak tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga pasar global.
Lokasi proyek menjadi daya tarik tersendiri. Primorsky Krai memiliki akses langsung ke Pelabuhan Vladivostok yang menghadap Samudera Pasifik, membuka peluang Pupuk Indonesia memperluas jangkauan pasar di kawasan Asia-Pasifik.
“Ini menjadi menarik karena Vladivostok menghadap Pasifik, kawasan yang selama ini memang menjadi pasar strategis Pupuk Indonesia,” kata Rahmad.
Selama ini Asia-Pasifik tercatat sebagai salah satu destinasi utama perdagangan Pupuk Indonesia. Kedekatan geografis dengan pasar tersebut diproyeksikan mampu menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing produk di kawasan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, menyebut penjajakan ini sebagai tindak lanjut konkret pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela EEF. Ia menilai kinerja Pupuk Indonesia yang semakin efisien menjadi modal utama untuk berekspansi ke luar negeri.
“Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok dan dengan pihak Rusia,” kata Rosan.
Meski peluang terbuka lebar, Pupuk Indonesia masih berada di tahap awal. MoU yang diteken menjadi dasar bagi kedua perusahaan untuk melakukan studi bersama (joint study) yang mencakup studi kelayakan dan uji tuntas (due diligence).
Sejumlah aspek akan menjadi fokus kajian, mulai dari teknis produksi, keekonomian proyek, kepastian pasokan bahan baku, struktur pembiayaan, hingga kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Keputusan final untuk merealisasikan investasi baru akan diambil setelah seluruh kajian tuntas dan memenuhi standar keekonomian perusahaan.