Dinas Perkebunan Kutim Turun ke Desa Tanjung Labu, Sekolah Lapang Sawit Targetkan Produktivitas Petani Meningkat

Penulis: Valdi Pratama  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:56:31 WIB
Petani sawit Desa Tanjung Labu mengikuti Sekolah Lapang yang digelar Dinas Perkebunan Kutim untuk meningkatkan produktivitas kebun.

RANTAU PULUNG — Para petani sawit di Desa Tanjung Labu tidak lagi hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun dalam mengelola kebun. Lewat Sekolah Lapang yang digelar dua hari, mereka dibekali metode budidaya yang lebih terukur, mulai dari keselamatan kerja hingga ketepatan memanen Tandan Buah Segar (TBS).

Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Perkebunan Kutim, Muhammad Yusufsyah, menegaskan bahwa peningkatan produksi sawit tidak semata-mata bergantung pada perluasan lahan. Menurutnya, kualitas bibit, pemeliharaan tanaman, dan ketepatan pemanenan justru menjadi faktor penentu utama.

“Sekolah Lapang merupakan metode penyuluhan partisipatif yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian petani dalam menerapkan teknologi budidaya yang ramah lingkungan,” kata Muhammad Yusufsyah.

Materi yang Dipelajari Petani di Lapangan

Berbeda dengan penyuluhan konvensional di dalam ruangan, Sekolah Lapang mengajak petani langsung mengidentifikasi masalah di kebun mereka sendiri. Demplot dan lahan peserta dijadikan lokasi belajar untuk mendiskusikan solusi secara langsung.

Ada empat materi utama yang menjadi fokus pelatihan. Pertama, aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang menekankan penggunaan alat pelindung diri (APD) serta prosedur aman saat pemupukan, penyemprotan, dan pemanenan.

Kedua, petani diarahkan untuk selektif memilih bibit. Bahan tanam wajib jelas asal-usulnya, sehat, dan bebas dari gejala hama atau penyakit. Ketiga, teknik pemanenan yang tepat dengan mengenali tingkat kematangan buah dan menjaga interval panen agar mutu TBS terjaga.

Pengelolaan Kebun dan Ancaman Ganoderma

Materi keempat mencakup pemeliharaan kebun secara menyeluruh, termasuk pemupukan berimbang dan pengendalian organisme pengganggu tanaman. Petani didorong melakukan pemantauan rutin untuk mendeteksi gangguan sejak dini, seperti serangan ulat api dan penyakit Ganoderma boninense.

Penunasan juga dibahas secara proporsional. Pelepah yang diperlukan untuk fotosintesis tetap dipertahankan, sementara yang tidak produktif dibuang untuk menjaga sirkulasi udara di kebun.

Larangan Membakar Lahan Ditegaskan

Dalam setiap pertemuan, Dinas Perkebunan Kutim selalu mengingatkan soal larangan membuka lahan dengan cara membakar. Imbauan ini mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2026 dan ketentuan lainnya yang berlaku.

“Monitoring penting untuk mendeteksi kendala lapangan sejak dini, sehingga permasalahan yang ditemukan dapat segera ditindaklanjuti dan tidak menghambat penerapan teknologi budidaya,” jelas Yusufsyah.

Dengan pendekatan partisipatif ini, petani tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi memahami alasan di balik setiap tahapan pengelolaan kebun. Harapannya, produktivitas dan mutu TBS di Kutim terus meningkat seiring menguatnya kapasitas petani di lapangan.

Reporter: Valdi Pratama
Sumber: kutimpost.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top