Investasi Data Center US$20 Miliar Terganjal Pasokan Listrik dan Talenta AI

Penulis: Wendra Kusuma  •  Selasa, 01 September 2026 | 18:10:02 WIB
Pekerja menyelesaikan konstruksi gedung pusat data di kawasan industri, Kalimantan Timur, Selasa (14/7/2026).

KALIMANTAN TIMUR — Moody's Ratings menilai industri pusat data global tengah bergeser dari kendala permintaan komputasi menjadi persoalan pasokan daya. Dalam laporan Power Without Delivery yang diterbitkan Juli 2026, lembaga pemeringkat itu menyebut lonjakan kecerdasan buatan (AI) kini dibatasi oleh ketersediaan listrik, infrastruktur transmisi, dan jadwal penyambungan aliran.

Kondisi ini relevan dengan Indonesia yang sedang gencar menarik investor fasilitas hyperscale. Pemerintah mencatat kapasitas pusat data yang terbangun sekitar 580 megawatt (MW), sementara minat investasi baru mencapai 1,3 gigawatt (GW) dengan nilai proyek US$15–20 miliar.

Kesenjangan Antara Konstruksi dan Operasi Komersial

Moody's menjelaskan terdapat rentang waktu panjang antara pembangunan fisik dan fasilitas menghasilkan pendapatan. Tahapannya meliputi penyelesaian konstruksi, ketersediaan listrik, energization, commissioning, pemasangan infrastruktur komputasi, hingga peningkatan utilisasi.

Keterlambatan koneksi listrik menjadi risiko utama. Pusat data yang secara fisik telah rampung tetap tidak bisa beroperasi optimal tanpa pasokan daya yang stabil. Apalagi fasilitas AI berjalan nonstop dan membutuhkan listrik dalam jumlah besar, bukan hanya dari pembangkit tetapi juga jaringan transmisi yang menjangkau lokasi proyek.

Konsentrasi pembangunan di kawasan tertentu memperbesar risiko tersebut. Pertumbuhan kapasitas yang terlalu cepat berpotensi menciptakan ketimpangan antara kebutuhan pusat data dan kemampuan jaringan setempat.

Air Jadi Titik Kritis Pendinginan Server AI

Persoalan kedua berada pada ketersediaan air untuk sistem pendingin. Semakin padat kapasitas komputasi dalam satu fasilitas, semakin tinggi panas yang dihasilkan server, sehingga kebutuhan air meningkat drastis.

Moody's menyebut eskalasi listrik dan air telah memicu perhatian regulator serta menekan infrastruktur lokal, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas.

Kekhawatiran serupa disuarakan Bill Gates dalam tulisannya A Turbulent AI Era and Critical Choices to Make. Pendiri Microsoft itu menegaskan kebutuhan energi dan air pusat data telah memicu desakan penghentian pengembangan AI dari sebagian kelompok masyarakat jika tidak ada solusi teknologi.

Celah Enam Juta Talenta Digital

Sektor sumber daya manusia menjadi hambatan ketiga yang tidak kalah pelik. Pusat data kelas hyperscale membutuhkan tenaga engineer dan teknisi dengan keahlian spesifik: kelistrikan, sistem pendinginan, jaringan, keamanan, operasional fasilitas, hingga infrastruktur komputasi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria memproyeksikan kebutuhan talenta digital Indonesia mencapai sekitar sembilan juta orang pada 2030. Kapasitas produksi talenta saat ini baru tiga juta lebih, menyisakan kesenjangan hampir enam juta orang yang harus dipenuhi dalam beberapa tahun.

"Tanpa talent yang kuat, saya kira kekayaan data kita pada akhirnya akan berserak ke mana-mana, dicuri, dibaca, akan di-capture oleh mereka yang lebih powerful," ujar Nezar dalam pernyataan tertulisnya.

Urgensi talenta diperkuat perubahan lanskap keamanan siber. Ancaman kini datang dari peretas yang memanfaatkan teknologi AI untuk menembus pertahanan digital, sekaligus menuntut kemampuan sistem keamanan yang lebih adaptif di sisi korporasi dan negara.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top