SAMARINDA — KONI Kalimantan Timur menerima surat resmi bernomor 09/PB.Porprov/XI/2026 dari Panitia Besar Porprov, Kamis (3/9). Dalam surat itu, cabor yang bakal bertanding di ajang empat tahunan tersebut dipangkas menjadi 59 dari usulan awal 64.
Ketua Umum KONI Kaltim, Anderiy, membenarkan kabar ini dan menyatakan lembaganya kini bersiap meneruskan informasi tersebut ke seluruh KONI kabupaten dan kota se-Kaltim. Hal itu dilakukan agar persiapan kontingen masing-masing daerah bisa langsung bergerak menyambut Porprov yang akan digelar di Paser.
Dari 59 cabor yang lolos, terdapat lima olahraga yang dipastikan absen pada Porprov Kaltim VIII tahun ini. Kelimanya adalah korfball indoor, ski air, barongsai, petanque, dan woodball.
Meski begitu, KONI Kaltim tak menutup pintu bagi para atlet dari lima cabor tersebut. Anderiy menyebut pihaknya akan segera memanggil pengurus masing-masing cabang untuk membahas kemungkinan jalan tengah.
Keputusan memangkas jumlah cabor ini bukanlah hal yang muncul tiba-tiba. Anderiy mengungkapkan, angka 59 tersebut adalah hasil rapat panjang yang melibatkan pertemuan tatap muka, diskusi melalui Zoom, hingga audiensi langsung dengan Gubernur Kalimantan Timur.
"Saya pastikan tidak ada intervensi. Keputusan usulan ini berdasarkan keterbatasan anggaran dan pertimbangan efisiensi, supaya pelaksanaan Porprov tetap terlaksana. Kita dari KONI Kaltim harus bijak menerima usulan ini," tegasnya.
KONI Kaltim sejatinya sempat mendorong agar 64 cabor tetap dipertandingkan. Namun, kondisi fiskal dan kemampuan APBD provinsi membuat harapan itu harus dikompromikan.
"Kami dari KONI Kaltim sebenarnya juga sudah memberikan masukan ke PB Porprov, harapannya bisa mempertimbangkan untuk mempertandingkan 64 cabor. Tapi karena kondisi fiskal, kemampuan APBD provinsi, kami juga tidak bisa berharap banyak," ucapnya.
Bagi lima cabor yang tidak masuk usulan resmi, KONI Kaltim membuka opsi agar mereka tetap bisa unjuk gigi. Anderiy menjelaskan, pengurus masing-masing cabor akan dipanggil dan ditawari skema pendanaan mandiri.
"Terkait lima cabor yang belum bisa dipertandingkan, kami dari KONI Kaltim akan mencoba memanggil masing-masing pengurusnya. Kita akan menawarkan opsi, jika mereka tetap ingin dipertandingkan, silakan dengan biaya mandiri, dan boleh dilaksanakan di Balikpapan atau Samarinda, tidak harus di Kabupaten Paser," ujar Anderiy.
Persoalan seretnya anggaran rupanya tak hanya dialami Kaltim. Sejumlah provinsi lain di Indonesia bahkan terpaksa menunda pelaksanaan Porprov hingga tahun 2027 dengan jumlah cabor yang juga dipangkas.
Dibanding daerah-daerah tersebut, Anderiy menyebut Kaltim masih patut bersyukur lantaran Porprov tetap bisa berjalan sesuai jadwal di penghujung tahun ini. Penundaan, menurutnya, akan berdampak langsung pada jadwal Pra-PON yang waktunya berdekatan.
Risiko yang muncul antara lain fokus latihan atlet yang terpecah, potensi cedera meningkat, hingga kelelahan jelang laga sesungguhnya. "Ini yang harus kita hindari. Untuk itu, sekali lagi mari kita doakan semoga pelaksanaan Porprov bisa berlangsung sukses di Paser nanti, sehingga pembinaan atlet di masing-masing kabupaten kota bisa berjalan," pungkasnya.
Anderiy menegaskan, Porprov juga menjadi ajang utama seleksi dan penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju event lebih tinggi seperti PON.