Dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur kembali melumpuhkan konektivitas udara ke wilayah pedalaman. Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas IA APT Pranoto Samarinda memastikan dua rute penerbangan perintis dibatalkan karena jarak pandang di bawah batas minimum operasional.
SAMARINDA — Pekatnya kabut asap karhutla di Kalimantan Timur memaksa pembatalan dua jadwal penerbangan perintis yang melayani masyarakat di daerah perbatasan. Kepala UPBU Kelas IA APT Pranoto Samarinda, I Kadek Yuli Sastrawan, mengonfirmasi gangguan tersebut terjadi pada rute Samarinda (AAP)-Datah Dawai (DTD) pergi-pulang (PP) serta rute lanjutan Datah Dawai (DTD)-Melalan Melak (MLK) PP.
Pembatalan ini bukan tanpa alasan. Kondisi visibility atau jarak pandang di Bandara Datah Dawai dilaporkan berada di bawah batas minimum keselamatan operasional penerbangan.
"Untuk penerbangan perintis rute tersebut saat ini sedang terjadi pembatalan dikarenakan visibility below minima di Bandara Datah Dawai," ungkap Kadek di Samarinda, Senin.
Penundaan dan pembatalan jadwal merupakan prosedur wajib yang diterapkan otoritas bandara bersama maskapai. Langkah ini diambil semata-mata untuk memprioritaskan keselamatan seluruh penumpang dan awak pesawat dari risiko fatal yang dapat ditimbulkan kabut asap tebal.
Meski dua rute masih lumpuh, terdapat kabar baik bagi warga yang hendak menuju kawasan hulu. Kondisi rute Samarinda-Long Ampung (AAP-LPU) PP yang sebelumnya sempat terganggu kini mulai kondusif.
"Rute Samarinda-Long Ampung PP yang sebelumnya sempat mengalami pembatalan serupa, saat ini kondisinya sudah mulai membaik, sehingga sudah mulai dilakukan penggantian jadwal penerbangan dari pembatalan tersebut," jelas Kadek.
Di tengah anomali cuaca ini, UPBU APT Pranoto Samarinda tidak hanya berkutat pada penanganan jadwal penumpang. Bandara yang menjadi gerbang utama ibu kota provinsi ini juga bersinergi dalam upaya mitigasi bencana daerah.
Kadek menambahkan, Bandara APT Pranoto direncanakan memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan operasi bom air atau water bombing. Operasi pemadaman dari udara menggunakan helikopter tersebut dijadwalkan berlangsung pada 7-11 September 2026.
Dukungan fasilitas bandara ini diharapkan mampu mempercepat proses pemadaman titik api. Dengan begitu, kualitas ruang udara Kalimantan Timur dapat kembali normal dan konektivitas masyarakat pedalaman segera pulih total.
Karhutla yang melanda Kaltim kerap menjadi persoalan tahunan. Selain mengganggu kesehatan warga, dampaknya kini dirasakan langsung oleh warga pedalaman yang menggantungkan mobilitasnya pada moda transportasi udara akibat minimnya akses darat.