Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang akhirnya mengguyur seluruh wilayah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, setelah wilayah tersebut dilanda cuaca panas dan kering sejak Juli 2026. Fenomena alam ini merata di lima kecamatan dan mereda menjelang waktu zuhur.
BALIKPAPAN — Setelah lebih dari dua bulan dilanda kemarau, hujan akhirnya tiba di Kota Balikpapan, Senin. Prakirawan BMKG Balikpapan Diyan Novriza memastikan hujan yang turun sejak pagi hingga menjelang siang itu merupakan fenomena alam murni, bukan hasil modifikasi cuaca.
“Hujan yang turun hari ini merupakan hujan alami. Tidak ada kegiatan modifikasi cuaca,” kata Diyan di Balikpapan, Senin.
Diyan menjelaskan, hujan merata ini dipicu aktivitas gelombang tropis di sekitar atmosfer Kalimantan Timur. Fenomena tersebut dipengaruhi Gelombang Kelvin yang secara signifikan meningkatkan potensi pembentukan awan hujan.
Kondisi atmosfer pada pagi hari sangat mendukung terbentuknya awan. Pemanasan sejak subuh dan suplai kelembapan yang cukup kuat membuat awan berkembang dengan cepat.
Hujan terpantau melanda kawasan Balikpapan Utara, Balikpapan Tengah, Balikpapan Selatan, Balikpapan Barat, hingga Balikpapan Timur. Kondisi ini sempat membasahi kawasan pesisir seperti Sepinggan, Gunung Bahagia, Manggar, dan Lamaru sebelum akhirnya mereda menjelang waktu zuhur.
Gelombang Kelvin merupakan gelombang energi yang terbentuk saat wilayah tropis mengalami pemanasan dan konveksi besar, atau pergerakan udara hangat yang naik ke atas. Gangguan pemanasan tersebut menciptakan ketidakseimbangan tekanan yang memicu gelombang bergerak dari barat ke timur di sepanjang garis ekuator.
Fenomena ini bersifat episodik dan biasanya aktif selama dua hingga tujuh hari sebelum akhirnya melemah. Indonesia yang berada di jalur ekuator menjadi salah satu wilayah yang paling sering menerima dampak dari dinamika atmosfer tersebut.
Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai genangan air besar atau gangguan pada layanan publik. Aktivitas masyarakat di seluruh kota dilaporkan tetap berjalan normal.