TENGGARONG — Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud buka suara soal kasus pencabulan yang menimpa belasan santriwati di Pondok Pesantren Ibadurrahman, Kutai Kartanegara. Orang nomor satu di Benua Etam itu menyatakan dukungan penuh terhadap penutupan total lembaga pendidikan agama tersebut.
“Kami tidak akan mentolerir kekerasan seksual di lembaga pendidikan. Ponpes Ibadurrahman harus ditutup total,” tegas Rudy Mas'ud dalam keterangannya, Selasa.
Langkah Konkret: Gandeng MUI dan Segel Madrasah
Tak hanya mendukung penutupan, Rudy Mas'ud juga mengajak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Timur untuk duduk bersama. Tujuannya, mencari solusi komprehensif agar kasus serupa tak terulang di ponpes lain.
“Kami akan libatkan MUI untuk pembinaan dan pengawasan ke depan. Ini bukan sekadar menutup, tapi juga memperbaiki sistem,” ujarnya.
Sebelumnya, Kementerian Agama (Kemenag) Kaltim bersama Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) telah menyegel madrasah yang menjadi lokasi kejadian. Penyegelan dilakukan sebagai langkah awal penyelidikan dan perlindungan terhadap para korban.
Fakta Singkat Kasus Ponpes Ibadurrahman
- 12 santriwati menjadi korban tindak asusila di lingkungan pondok pesantren.
- Penyegelan dilakukan oleh Kemenag dan TRC PPA sebagai bentuk isolasi tempat kejadian perkara.
- Gubernur Kaltim mendukung penuh penutupan total dan menggandeng MUI untuk pengawasan lembaga pendidikan agama.
Dukungan Penutupan Total: Apa Dampaknya?
Dukungan penuh dari Gubernur Kaltim terhadap penutupan Ponpes Ibadurrahman menjadi sinyal keras bagi lembaga pendidikan lain yang lalai dalam pengawasan. Langkah ini juga diharapkan memberi efek jera dan memastikan proses hukum berjalan transparan.
Pemerintah provinsi berjanji akan terus memantau perkembangan kasus ini. Rudy Mas'ud menegaskan, perlindungan terhadap anak-anak adalah prioritas utama yang tak bisa ditawar.