SAMARINDA — Tiga orangutan betina bernama Bagus, Eboni, dan Ruby akhirnya kembali ke habitat alaminya di hutan Kalimantan Timur setelah menjalani masa rehabilitasi bertahun-tahun. Mereka dilepasliarkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim di kawasan konservasi yang jauh dari permukiman warga. Ketiganya sebelumnya menjadi korban perburuan dan konflik dengan manusia.
Luka Masa Lalu: Jerat, Peluru, dan Kehilangan Induk
Masing-masing orangutan memiliki kisah kelam sebelum direhabilitasi. Bagus ditemukan dalam kondisi terlilit jerat di perkebunan warga. Eboni menjadi korban perburuan dengan luka tembak di tubuhnya. Sementara Ruby diselamatkan saat masih bayi tanpa induk, setelah habitatnya rusak akibat alih fungsi lahan.
Mereka menjalani perawatan intensif di pusat rehabilitasi selama bertahun-tahun. Proses ini meliputi pemulihan fisik, pengembalian perilaku alami, hingga pelatihan bertahan hidup di hutan.
Mengapa Pelepasliaran Baru Dilakukan Sekarang?
Pihak BKSDA Kaltim menyebut ketiga orangutan dinyatakan layak kembali ke alam setelah melewati serangkaian tes medis dan perilaku. Lokasi pelepasliaran dipilih secara ketat untuk memastikan ketersediaan pakan alami serta minim gangguan manusia.
Pelepasliaran ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang menjaga populasi orangutan di Kalimantan Timur. Populasi satwa dilindungi ini terus tertekan oleh deforestasi dan perburuan liar.
Konflik dengan Manusia: Ancaman Utama Orangutan
Konflik antara orangutan dan manusia kerap terjadi saat habitat mereka menyempit. Satwa ini kerap masuk ke perkebunan warga untuk mencari makan, lalu berujung pada perburuan atau pengusiran dengan kekerasan.
BKSDA mengimbau warga yang menemukan orangutan di sekitar permukiman untuk segera melapor, bukan bertindak sendiri. Tim penyelamat akan melakukan evakuasi dan translokasi jika diperlukan.
Apa Langkah Selanjutnya?
Setelah dilepasliarkan, tim BKSDA tetap memantau pergerakan Bagus, Eboni, dan Ruby melalui sistem radio tracking. Pemantauan ini untuk memastikan mereka mampu beradaptasi dan tidak kembali mendekati permukiman.
Pelepasliaran tiga orangutan betina ini diharapkan bisa memperkuat populasi dan keragaman genetik di habitat alami mereka. Upaya serupa akan terus dilakukan sepanjang tersedia individu yang siap kembali ke alam.