BALIKPAPAN — Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Balikpapan menempatkan sumur bor di 11 kelompok tani dan satu kelompok pembudidaya ikan. Sembilan titik berada di Balikpapan Timur, dua lainnya di kawasan Karang Joang. Setiap fasilitas dilengkapi tandon air agar kelompok penerima bisa langsung memanfaatkannya di lahan usaha masing-masing.
Kepala DKP3 Balikpapan Sri Wahyuningsih menyebut persoalan air menjadi tantangan terberat petani setiap musim kemarau. Tanaman tetap butuh penyiraman, sementara pasokan air tidak selalu tersedia.
"Selama ini sebagian petani harus mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli air. Sementara kebutuhan penyiraman tanaman tidak bisa dihentikan begitu saja," ujarnya, Selasa (3/11/2026).
Keterbatasan pasokan air berpengaruh langsung ke hasil produksi. Penurunan produktivitas mencapai sekitar 60 persen dibandingkan kondisi normal. Angka itu membuat petani menghadapi tekanan ganda: panen berkurang, pengeluaran operasional justru bertambah.
Dampaknya merambat ke harga di pasar. Yuyun, sapaan akrab Sri Wahyuningsih, menyebut kenaikan biaya produksi akan dihitung petani dan diteruskan ke harga jual.
"Dampaknya petani akan menghitung dan menaikkan harga jual ke pasarnya. Sehingga harga sayur-mayur ikut naik di pasar dampak dari kekeringan," jelasnya.
Seluruh pekerjaan pembangunan sumur bor saat ini sedang berjalan. Pemkot Balikpapan menargetkan pengerjaan rampung pada minggu ketiga November 2026.
"Semua sedang dikerjakan dengan deadline hingga minggu ketiga November," ungkap Yuyun.
Lokasi sumur bor berada di lahan pertanian. Pemkot memberi bantuan sumur bor beserta tandon yang siap dimanfaatkan kelompok tani di wilayah sekitar.
Keberadaan sumur bor diharapkan mengurangi ketergantungan petani terhadap pembelian air dari luar. Dengan sumber air di sekitar lahan, beban biaya penyiraman bisa ditekan.
Fasilitas itu juga diproyeksikan menjaga produktivitas tanaman sekaligus menahan kenaikan biaya produksi yang selama ini turut memengaruhi harga jual komoditas pertanian. Pemkot Balikpapan berharap bantuan dimanfaatkan optimal oleh kelompok penerima.
Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penentu keberlanjutan usaha tani di Balikpapan. Pasokan sayuran lokal bagi warga kota bergantung pada kemampuan petani bertahan melewati musim kemarau.