JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan kehilangan 192,54 poin dalam sehari. Padahal, IHSG sempat dibuka menguat di kisaran 5.126 sebelum tekanan jual membawanya menembus batas 5.000 sebelum pukul 11.00 WIB.
Volume perdagangan tercatat 27,2 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp11,7 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 57 yang menguat, 624 melemah, dan 37 stagnan.
Net Sell Asing Rp575 Miliar Perparah Tekanan
Investor asing membukukan penjualan bersih Rp575 miliar. Arus keluar dana asing memperbesar tekanan terhadap pasar saham domestik yang sudah tertekan sejak sesi pagi.
Seluruh sektor kompak melemah. Sektor bahan baku mencatat koreksi terdalam 5,69 persen, disusul properti dan real estat 5,16 persen, energi 4,29 persen, konsumer siklikal 3,13 persen, serta keuangan 3,09 persen.
Saham berkapitalisasi besar turut menyeret indeks. Di antaranya BBRI, BBCA, BMRI, AMMN, dan ASII yang sama-sama berada di zona merah.
Rupiah Berbalik Menguat di Tengah Tekanan Global
Di pasar valuta asing, rupiah bergerak berlawanan arah dengan bursa. Mata uang Indonesia ditutup Rp18.135 per dolar AS, menguat tipis 0,03 persen dari posisi sehari sebelumnya Rp18.140.
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga Rp18.165 per dolar AS sebelum berbalik menguat. Indeks dolar AS (DXY) turun 0,06 persen ke level 101,688 pada pukul 15.00 WIB.
Pemilu Sela AS dan Harga Minyak Jadi Pemicu
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan pemilu sela Amerika Serikat. Hasil pemungutan suara berpotensi memengaruhi arah politik dan kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 7 persen pada Senin (2/11/2026). Penurunan terjadi seiring menguatnya harapan meredanya konflik AS-Israel dengan Iran.
Kombinasi sentimen eksternal dan aksi jual asing membuat IHSG kehilangan pijakan di level 5.000. Perdagangan pekan ini akan menjadi ujian apakah indeks mampu kembali ke zona psikologis tersebut.