Hujan Mulai Guyur Samarinda, BMKG Sebut MJO Aktif dan Musim Hujan Tiba Pertengahan November

Penulis: Wendra Kusuma  •  Jumat, 06 November 2026 | 08:31:32 WIB
Hujan mulai turun di Samarinda seiring aktifnya MJO yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan.

SAMARINDA — Forecaster BMKG Kota Samarinda Fiona Alya Hanifah menyatakan hujan yang turun dalam beberapa waktu terakhir berkaitan dengan aktivitas MJO yang memengaruhi pertumbuhan awan. Ketika fenomena itu aktif, peluang terbentuknya awan hujan di Kalimantan, termasuk Kaltim, cenderung meningkat.

“Jadi untuk kejadian hujan akhir-akhir ini dipengaruhi oleh adanya aktifnya MJO, semacam salah satu variabilitas iklim juga,” kata Fiona, Kamis (5/11).

Selain MJO, kondisi atmosfer Indonesia mulai dipengaruhi pergerakan angin dari Asia. Angin dari Australia masih berpengaruh, sehingga Kaltim berada dalam fase peralihan musim.

Samarinda Masih di Fase Peralihan, Puncak Hujan Januari–Februari

“Jadi kalau MJO-nya lagi aktif cenderung untuk meningkatnya pertumbuhan awan yang berpotensi hujan di Kalimantan. Masih peralihan dari musim kemarau ke musim hujan,” jelasnya.

BMKG belum memprakirakan curah hujan tinggi merata di seluruh Kaltim pada awal November. Untuk dasarian pertama November, curah hujan Samarinda diperkirakan berada di kategori menengah dengan kisaran 50–75 milimeter.

“Kalau untuk Samarinda masih kategori yang 50 sampai 75,” sebut Fiona.

Wilayah lain berpotensi menerima curah hujan lebih tinggi. Kutai Barat dan Mahakam Ulu masuk kategori menengah dengan kisaran 100–150 milimeter.

“Kurang lebih masih sesuai dengan prakiraan sebelumnya yaitu pertengahan November musim hujannya. Jadi peralihan musimnya mungkin awal November-nya,” ujarnya.

Puncak musim hujan diperkirakan berada di sekitar periode normal, yakni Januari hingga Februari atau awal tahun depan. Pada kondisi itu, pengaruh angin monsun dinilai lebih kuat dibandingkan El Nino.

Hujan Bantu Turunkan Partikulat, tapi Sumber Asap Harus Dipadamkan

Di tengah hujan yang mulai turun, persoalan kabut asap akibat karhutla masih menjadi perhatian. Fiona menjelaskan hujan dapat memperbaiki kualitas udara melalui proses pencucian atmosfer atau atmospheric washout.

Proses itu tidak serta-merta menghilangkan asap selama sumber kebakaran masih ada. Hujan perlu memiliki intensitas cukup untuk membantu memadamkan api.

“Sebenarnya kan asap itu ada karena ada sumbernya. Jadi misalkan ada hujan itu bantu menurunkan konsentrasi partikulat yang ada di atmosfer. Sehingga tidak jadi asap,” terangnya.

BMKG belum dapat memastikan berapa banyak curah hujan yang dibutuhkan untuk memperbaiki kualitas udara. Fiona menyebut kualitas udara diperkirakan berangsur membaik seiring masuknya masa peralihan musim.

Titik Panas Berkurang, Samarinda Tanpa Titik Merah

Jumlah titik panas yang terpantau satelit berkurang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Fiona menegaskan titik panas tidak dapat disamakan langsung dengan titik api.

Pengamatan satelit mendeteksi anomali suhu pada suatu wilayah, yakni area bersuhu lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Khusus Samarinda, tidak ada lagi titik merah yang terpantau dalam pemantauan tersebut.

Mulainya musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia tidak serta-merta berarti pengaruh El Nino berakhir. Fiona menjelaskan puncak El Nino tidak selalu bertepatan dengan puncak musim kemarau.

Meski El Nino kuat diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, wilayah dengan pola hujan monsunal tetap mulai memasuki musim hujan pada November. Keberadaan El Nino masih berpotensi memengaruhi intensitas curah hujan.

“Kemarin prediksinya masih normal kalau curah hujannya. Tapi nanti kami akan update lagi prakiraannya,” pungkasnya.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: eksposkaltim.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top