KALIMANTAN TIMUR — Pembersihan dilakukan sejak pagi hari dengan melibatkan delapan personel dan dua armada truk pengangkut. Material yang diangkut diperkirakan mencapai lima ton lebih, terdiri dari sampah organik dan anorganik yang bercampur menjadi satu. Kepala Seksi Kebersihan Kecamatan Cakung, Budi Santoso, mengatakan penumpukan terjadi akibat jadwal pengangkutan yang molor selama libur panjang akhir pekan lalu.
Warga Keluhkan Bau Busuk dan Gangguan Akses Selama Tiga Hari
"Kami sudah menghubungi kelurahan sejak Minggu malam, tapi baru direspons hari ini. Bau busuk sudah sampai ke dalam rumah," ujar Siti Rahma, warga RT 05 RW 02 Gang Swadaya. Ia menambahkan, motor warga kesulitan melintas karena tumpukan sampah menyempitkan jalan hingga hanya tersisa setengah meter.
Kondisi serupa terjadi di beberapa titik di Jakarta Timur pascahari libur. Namun, lokasi Gang Swadaya menjadi yang terparah karena akses jalan merupakan satu-satunya jalur keluar-masuk bagi 150 kepala keluarga. "Kami minta jadwal pengangkutan diperbaiki, jangan sampai kejadian ini terulang lagi," tambah Siti.
DLH DKI Klaim Keterlambatan karena Lonjakan Volume Sampah
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, membenarkan adanya lonjakan volume sampah hingga 20 persen selama periode libur. "Kami minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Mulai pekan depan kami akan menambah frekuensi pengangkutan di wilayah padat penduduk seperti Cakung," katanya dalam keterangan tertulis.
Data DLH DKI mencatat, volume sampah di Jakarta Timur pada Juni 2026 mencapai 1.200 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 15 persen berasal dari permukiman padat di Kecamatan Cakung dan sekitarnya. Pembersihan di Gang Swadaya ditargetkan selesai pada Rabu (1/7) siang.
Warga Desain Sistem Jadwal Angkut Berbasis RT
Menanggapi insiden ini, Ketua RW 02 Gang Swadaya, Supardi, mengusulkan sistem pengangkutan berbasis RT agar petugas lebih mudah memonitor titik-titik rawan penumpukan. "Kami buat grup WhatsApp khusus, setiap RT lapor kalau sampah sudah penuh. Jangan nunggu jadwal tetap yang sering molor," jelasnya.
DLH DKI menyambut baik usulan tersebut dan akan mengujicobakannya di Gang Swadaya mulai Juli mendatang. Jika berhasil, sistem serupa akan diterapkan di 15 kelurahan lain di Jakarta Timur. "Ini solusi kolaboratif yang kami butuhkan. Masyarakat jadi mitra, bukan sekadar objek," pungkas Asep.