KALIMANTAN TIMUR — Ketua DPP PDIP Deddy Yevry Sitorus merespons pernyataan Sekjen Partai Golkar Muhammad Sarmuji yang mempertanyakan posisi partainya sebagai partai penyeimbang. Dalam keterangan pers yang diterima Sabtu (20/6), Deddy melontarkan kritik tajam kepada Golkar.
"PDI Perjuangan bukanlah partai seperti Golkar yang kalah atau menang tetap ingin ikut berkuasa. Kami tidak memiliki bakat candu kekuasaan, seolah tanpa berkuasa akan mati atau tidak berkembang," kata Deddy.
Kritik ke Parlemen yang Dianggap Manut Eksekutif
Deddy yang juga anggota Komisi I DPR itu justru heran dengan sikap sejumlah pihak yang menyindir PDIP karena memilih berada di luar kabinet. Menurutnya, berada dalam kekuasaan memang menguntungkan, namun ia mempertanyakan logika di balik kritik tersebut.
Ia menghormati partai-partai yang memilih bergabung dalam pemerintahan. Namun, Deddy mengingatkan agar Golkar juga menunjukkan sikap yang sama terhadap partai yang berada di luar pemerintahan.
Lebih jauh, Deddy menilai fungsi parlemen saat ini tidak berbeda dengan era Orde Baru. Ia menyebut mayoritas kursi di DPR didominasi partai pendukung pemerintah sehingga sulit membayangkan mereka akan tetap kritis.
"Jika seluruh fraksi di DPR hanya mampu manut dan setuju terhadap eksekutif, apa bedanya dengan era Orde Baru? Apakah DPR masih dibutuhkan?" ujarnya.
Sekjen Golkar Sebelumnya Pertanyakan Fungsi Penyeimbang
Sebelumnya, Sekjen Partai Golkar Muhammad Sarmuji mempertanyakan sikap politik PDIP yang disebut sebagai partai penyeimbang. Ia mengaku tidak memahami maksud dari posisi tersebut.
"Selama ini entah apa yang diseimbangkan? Nanti rakyat yang menilai," ujar Sarmuji dalam pernyataan terpisah.
Pertukaran pernyataan ini menandai ketegangan antara dua partai besar yang memiliki posisi politik berbeda. PDIP memilih berada di luar pemerintahan Prabowo Subianto, sementara Golkar merupakan salah satu partai pengusung utama koalisi.