SAMARINDA — Ancaman kesehatan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur tidak bisa dianggap enteng, terutama bagi buah hati. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat 799 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang periode 1-22 Agustus 2026, setara rata-rata 36,3 kasus per hari dan masuk dalam 10 besar keluhan kesehatan masyarakat.
Kepala Dinkes Kota Samarinda Ismed Kusasih mengatakan, secara umum kondisi kesehatan masyarakat masih terkendali. Namun, tren peningkatan ISPA dibanding periode sebelumnya membuat pihaknya bergerak waspada.
"Masih terkendali dan belum ada peningkatan yang signifikan, kecuali ISPA. Ini juga harus diwaspadai," kata Ismed saat dikonfirmasi, beberapa waktu lalu.
Paru-Paru Anak Masih Berkembang, Risiko Lebih Tinggi
Kekhawatiran terhadap anak bukan tanpa alasan. Kementerian Kesehatan menegaskan anak-anak merupakan kelompok yang membutuhkan perlindungan ekstra saat terjadi paparan asap karhutla. Partikel halus seperti PM2,5 dan sejumlah polutan lain dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti menjelaskan, anak-anak lebih rentan karena paru-paru, sistem kognitif, jantung, dan sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menempatkan anak sebagai kelompok sensitif terhadap dampak asap kebakaran.
Dokter spesialis anak dr. Eriska Ayu Wirindri, Sp.A., memaparkan partikel halus dari asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu peradangan. Gejalanya tidak melulu batuk.
"Anak bisa mengalami batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, mengi hingga sesak napas," ujarnya.
Selain itu, anak juga bisa mengalami mata perih dan napas berbunyi. Bagi yang memiliki riwayat asma, paparan polusi dapat memperburuk keluhan yang sudah ada.
Dinkes Kaltim Siagakan Tim Krisis Kesehatan
Antisipasi terhadap ancaman karhutla juga dilakukan di tingkat provinsi. Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin menyatakan tim krisis kesehatan telah disiagakan untuk memantau potensi peningkatan penyakit dampak karhutla, termasuk ISPA.
"Kami langsung merespons situasi tersebut dengan mengirimkan bantuan logistik kesehatan, termasuk ketersediaan masker, ke sejumlah wilayah terdampak seperti Berau dan Paser sebagai daerah yang paling rawan karhutla," ujar Jaya.
Pemantauan titik api, kualitas udara, dan tren laporan ISPA kini diintegrasikan melalui satu sistem pemantauan kesehatan untuk mempercepat respons. Data Dinkes Kaltim mencatat, sepanjang Januari hingga Juli 2026, kasus ISPA di provinsi ini berada di kisaran hingga 35.000 kasus per bulan.
Yang Harus Dilakukan Orang Tua Saat Kualitas Udara Buruk
Ketika kualitas udara memburuk, langkah paling utama adalah mengurangi aktivitas anak di luar ruangan. Kementerian Kesehatan juga mengimbau warga di wilayah terdampak untuk menggunakan masker dan membatasi aktivitas saat kualitas udara menurun.
Pemerintah Kota Samarinda meminta perhatian lebih diberikan kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. Orang tua juga diminta jeli melihat perubahan kondisi anak. Batuk yang semakin berat, napas berbunyi, sesak napas, atau lemas yang tak kunjung membaik sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, melindungi anak dari asap bukan hanya soal mencegah batuk. Yang lebih utama adalah mencegah paparan polusi berulang agar gangguan pernapasan tidak berkembang menjadi masalah kesehatan serius di kemudian hari.