SAMARINDA — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat kenaikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebesar 22,8 persen pada Agustus 2026 dibandingkan Juli. Angka ini menjadi perhatian serius karena ISPA termasuk penyakit yang paling mendominasi keluhan kesehatan masyarakat di kota tersebut.
Kepala Dinkes Kota Samarinda Ismed Kusasih menegaskan bahwa kenaikan ini tidak serta-merta menandakan kondisi luar biasa. Dinkes terus memantau perkembangan kasus melalui sistem surveilans kesehatan, termasuk melihat tingkat keparahan pasien dan kebutuhan perawatan di rumah sakit.
Deteksi Dini Kunci Mencegah Kondisi Memburuk
Ismed mengingatkan warga tidak menunggu gejala ISPA semakin parah sebelum mencari pertolongan medis. Pemeriksaan di puskesmas atau klinik pada tahap awal dinilai jauh lebih efektif untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat.
“Semakin cepat kita deteksi, semakin cepat kita melakukan hal-hal untuk mencegah terjadinya potensi penyakit yang berat,” ujarnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Puskesmas dan klinik memiliki peran utama dalam pelayanan promotif dan preventif. Penanganan sejak awal di tingkat tersebut diharapkan mampu menekan risiko pasien harus dirujuk ke rumah sakit.
“Kalau sudah preventif dan promotif, nah itu peran dari puskesmas dan klinik kesehatan untuk membantu mencegah penyakit ini menjadi berat,” jelas Ismed.
Rumah Sakit Dibutuhkan untuk Pasien dengan Komorbid
Meski mayoritas kasus ISPA masih bisa ditangani di FKTP, sebagian pasien memerlukan penanganan lebih lanjut. Ismed menyebut rumah sakit menjadi tempat yang tepat ketika pasien memiliki penyakit penyerta atau komorbid yang memperparah gangguan saluran pernapasan.
“Penanganan kuratif dan spesialis itu nanti ketika memang ada komorbid atau ada penyakit yang memperparah kondisi saluran pernapasan,” katanya.
Hingga saat ini, belum ada peningkatan signifikan kasus ISPA yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa sebagian besar pasien masih tertangani di layanan tingkat pertama.
ISPA Bukan Sekadar Penyakit Musim Kekeringan
Ismed mengingatkan masyarakat agar tidak mengaitkan ISPA hanya dengan musim kemarau atau kekeringan. Penyakit ini sejatinya selalu ada sepanjang tahun dan kerap mendominasi klaim kesehatan masyarakat.
“Jangan lupa ISPA itu ada atau tidak ada kekeringan, dia penyakit yang selalu mendominasi,” ujarnya.
Karena itu, warga tetap diminta menjaga kondisi tubuh dan tidak menunda pemeriksaan ketika muncul keluhan pernapasan. Langkah awal di puskesmas atau klinik menjadi pintu masuk untuk mengetahui kondisi kesehatan dan menentukan penanganan yang tepat. “Utamanya, pemeriksaan di puskesmas atau klinik bisa menjadi langkah awal untuk mengetahui kondisi dan menentukan penanganan yang diperlukan,” tutup Ismed.